Bekarja atau Mati

Bekerja atau Mati
Diterjemahkan oleh:
Adriyanto
(Tepakyang Adimulyo Kebumen)

Aid al-Qarni
Setelah perang, Jerman mengangkat slogan “bekerja atau mati”, maka dari itu, Jerman berubah menjadi pusat lapangan pekerjaan, Empat tahun kemudian Jerman menjadi Negara Industri yang maju. Dalam buku Mut’ah al-Hadits Ishak Neoton menyatakan: kesuksesan itu membutuhkan tiga faktor : Pertama, bekerja, bekerja, dan bekerja.Pekerjaan itu diawali dengan adanya pengetahuan, Allah berfirman: yang artinya: ketahuilah bahwa tiada tuhan selain Allah. Pengetahuan itu dimulai dari membaca, sementara banyak orang tidak membaca, maka mereka tidak akan memperoleh pengalaman, pekerjaan, dan keluhuran Dalam artikelku yang kemarin, dengan judul: العرب لايقرؤون (orang Arab tidak mau membaca) saya menjelaskan apa yang harus saya lakukan dalam masalah ini dan masyarakat tidak bekerja, maka mereka tidak berhak mendapatkan kekekalan.
Islam itu datang membawa ilmu dan pekerjaan, Rasulullah Saw memberi pada seseorang sebuah kampak dan menyuruhnya untuk mencari kayu bakar dan menjualnya, agar tidak selalu bergantung pada masyarakat. Begitu juga Umar bin Khatab memukuli para pemuda yang duduk-duduk di masjid, dengan tanpa bekerja dan hanya bergantung pada tetangga mereka. Selain memukuli, Ibnu Umar juga berteriak pada mereka: keluarlah dan carilah rizki, karena langit tidak hujan emas maupun perak. Nabi Muhammad bekerja sama degan sahabat-sahabatnya dalam membangun masjid dan menggali parit.
Rasul bersabda: sesungguhnya Allah mencintai diantara kamu, apabila bekerja dengan dengan rapi.
Rasul juga bersabda: orang mu’min yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai dari seorang mu’min yang lemah. Nabi Idris adalah seorang penjahit, Nabi Zakaria adalah tukang kayu, Nabi Dawud seorang pandai besi, sementara Nabi Musa adalah seorang penggembala kambing yang digaji. Diantara sebab majunya Negara Barat adalah bergantungnya mereka pada ilmu yang bersifat praktis seperti industri dan pabrik.
Sementara kita bergantung pada ilmu-ilmu teori, sehingga kita sibuk dengan ilmu Geografi hingga akhirnya kita hafal diluar kepala nama-nama ibu kota seperti Chad, Sinegal, dan Oganda. Kita hafal puisinya sastrawan Jarir dan Farozdaq padahal itu tidak bisa memberi roti dan tidak mengangkat drajat Berlebih-lebihan dalam ilmu seni, matematika, penemuan dan industri itu merupakan tipuan setan dan permainan iblis. Team olahraga Kamerun lebih kuat dari pada team Amerika Serikat. Ketika kamerun tidak mampu untuk memberi roti kering pada rakyatya dan jika negara menghendaki kerusakan dan diakhiri kekecewaan maka maka Negara itu berubah dari persatuan menjadi permusuhan, dari perindustrian menjadi kafe, dan dari memproduksi dan berkreasi menjadi permainan kartu dan pemakan tanaman Fisfis.
Sebaiknya kita mengobati penyakit psikologis kita dengan iman dan bekerja. Karena pengangguran melahirkan angan-angan buruk yang menjadikan ia bunuh diri sedangkan orang yang giat bekerja adalah orang yang paling bahagia dan orang yang dadanya paling lapang, karena mereka tak ada waktu untuk berpikir sumbang. Negara mana saja yang tidak mau berusaha untuk membuka lapangan pekerjaan adalah negara yang mimpi untuk berkembang, maka baginya wajib menjadi negara yang mati. Apabila kita bekerja disertai dengan kesungguhan, maka problem, pengangguran, kefakiran, dan penyakit kita akan berkurang. Kita pasti akan mengangkat slogan: kita makan dengan apa yang kita tanam dan berpakaian dengan apa yang kita ciptakan. Dalam sebuah puisi “ Unsyuda as-Shabah karya Novelis India seperti Yadasai : hadapilah harimu dengan pekerjaan, karena hari ini tidak terulang lagi. Sesungguh keringat pekerja lebih wangi dari minyak misik, sungguh hasta yang rajin lebih mulia dari kening yang malas, dan tarik nafasnya kuli bangunan lebih indah daripada orang kaya yang boros.
seandainya kamu memanggil orang yang masih hidup Pasti kamu memperdengarkannya, tetapi orang yang engkau panggil telah mati.Seandainya api itu engkau tiup pasti akan menyala, tapi engkau malah meniup abu
Terima kasih pada para pegawai yang duduk di kursi dengan berbuat adil terhadap semua kasus, menindas penganiaya, menolong yang dianiaya dan menghibur para korban. Terima kasih pada pengajar yang meluruskan pemahaman dan meluruskan jiwa dan membangun pikiran. Terima kasih pada para dokter yang mengobati dan menyembuhkan orang sakit, dan membalut luka. Terima kasih pada para petani yang menanam pohon, mengatur air dan menanami bumi.Terima kasih pada para tentara yang telah melindungi agama dan tanah air dan masyarakat. Terima kasih para penguasa yang memiliki keteguhan, keinginan yang tinggi dan ide-ide yang menggiurkan, dan terima kasih pada orang-orang sukses.