Turunnya Besi dari Langit


Allah berfirman:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ 25.

Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS al-Hadid: 25)

Ayat tersebut menyinggung keberadaan besi di bumi dan keberadaannya terjadi dengan proses “diturunkan” dari langit. Hal ini mendorong kita untuk mendalami bagaimana terbentuknya besi dalam bumi.
Para ilmuwan telah meriset hal tersebut dan menemukan bahwa 98% alam semesta terbentuk dari hidrogen dan helium, yang merupakan dua unsur teringan, dan 2% sisanya terbentuk dari unsur-unsur yang lebih berat. Jumlahnya 105 unsur. Hal itu membuat para ahli berkesimpulan materi-materi yang lebih massa atomnya berat terbentuk dari materi-materi yang lebih ringan. Itu terjadi dengan proses penyatuan atom yang disertai dengan penyerapan energy yang luar biasa besar.


Para peneliti menemukan adanya bintang-bintang yang panasnya mencapai 300 sampai 400 ribu juta derajat Celsius sehingga dapat terbentuk besi di dalamnya. Ketika volume besi mencapai 50% dari total massa bintang tersebut, dan inti bintang tersebut menjadi besi seluruhnya proses pembentukan besi terhenti sama sekali. Dan ketika itu meledaklah bintang tersebut. Ketika meledak seluruh pecahan bintang tersebut terpencar ke berbagai arah. Dan dengan takdir Allah masuklah beberapa bagian itu dalam ruangan gravitasi benda-benda langit yang lain. Kita lihat hal itu terjadi pada meteor-meteor metal yang sampai ke bumi, seperti yang terjadi di selatan Sudan. Sebuah meteor seberat 90 ton jatuh di kota Joba. Dan biasanya meteor terbakar begitu bergesekan dengan atmosfir bumi. Jatuhnya 90 ton besi murni ke permukaan bumi maknanya adalah massa meteor tersebut semula jauh lebih besar berlipat-lipat kali.


Kita juga temukan meteor-meteor metalik sampai ke bumi, ke bulan, dan ke benda-benda kosmik lain. Hal itu membuat para ilmuwan berkesimpulan bahwa bumi ketika terpisah dari matahari tidak lebih dari sekumpulan debu.
Para ahli mengatakan bahwa bumi terbentuk 4,5 milyar tahun yang lalu. Dan sejak itu meteor-meteor dan komet-komet menjatuhi bumi dengan deras dan kuat sampai-sampai panas yang ditimbulkan dari benturan-benturan kuat tersebut cukup untuk melelehkan sebuah planet. Kemudian bumi mulai mendingin dan terus dingin sampai sekarang. Dan zat-zat berat yang dibawa meteor-metero tersebut seperti besi terus masuk ke dalam bumi. Sedangkan zat-zat yang lebih ringan terus naik. Sperti molekul-mulekul oksigen dan air naik ke permukaan bumi. Besi membentuk lebih 35% dari volume bumi, di mana bumi terbentuk dari inti padat metalik kemudian dilingkupi oleh inti cair yang juga sebagian besarnya besi, kemudian empat la[isan yang berbeda-beda di mana basi juga memiliki prosentasi yang tinggi. Kemudian lapisan batu-batuan yang juga mengandung unsur besi yang cukup.


Kita perhatikan bahwa inti terdalam sebagian besarnya terdiri dari besi pada dalam kondisi yang padat. Sedangkan inti luar yang melapisinya terdiri dari besi plus 10% dari belerang. Dengan demikian besi merupakan unsur yang penting dalam pembentukan lapisan-lapisan bumi.
Syeikh Abdul Majid az-Zindani bertanya kepada seorang ahli astronomi NASA bernama Prof Armstrong, ”Bagaimana proses terbentuknya besi?” Prof Armstrong berkata, “Saya akan ceritakan bagaimana seluruh unsur-unsur pembentuk bumi terbentuk. Kami telah menemukan, bahkan telah kami lakukan beberapa eksperimen untuk membuktikan perkataan kami ini. Seluruh unsur-unsur yang berbeda-beda terdiri dari partikel-partikel kecil yang terbentuk dari electron, proton dan lain sebagainya. Supaya partikel-partikel tersebut dapat bersatu dalam satu atom diperlukan energy. Ketika kami kalkulasi energy yang dibutuhkan untuk pembentukan satu atom besi, kami temukan bahwa energy yang diperlukan sebanding dengan energy seluruh tata surya empat kali lipat. Dengan demikian para ilmuwan berkeyakinan bahwa besi adalah unsur yang asing datang dari luar bumi. Dan tidak terbentuk di bumi.”


Ketika beliau ditanya, “Kapan para ilmuwan menemukan kenyataan bahwa besi diturunkan ke bumi?” Beliau menjawab, “Kenyataan ini tidak diketahui dari para ilmuwan kecuali perempat terakhir dari abad ke-20. Dan tidak satupun dari para ilmuwan dan peneliti tidak buku-buku ilmu pengetahuan modern yang menyinggung hal tersebut sebelum waktu tersebut.”
Para ilmuwan fisika telah mampu membuat unsur yang berat dan unsur yang lebih ringan dan mereka dapat mengkalkulasi energy yang dibutuhkan untuk membentuk unsurunsur tersebut. Dan mereka mendapatkan bahwa energy yang dibutuhkan untuk membentu satu atom besi adalah sejumlah empat kali energy yang terdapat dalam tata surya. Sehingga mereka memastikan bahwa besi tidak meungkin tercipta di bumi, atau bahkan dalam lingkungan tata surya. Tetapi besi hanya bisa terbentuk dalam bintang di luar tata surya, dan kemudian turun ke bumi dalam bentuk besi.


(Disarikan dari buku Bayyinaatur Rasul karya Abdul Majid az-Zindani)

Kemukjizatan Al-Qur'an

Oleh : Prof. Dr. Achmad Satori


Di antara ciri agama yang layak dianut di abad modern adalah bahwa agama tersebut dibawa oleh manusia pilihan ( yaitu Nabi) yang dikuatkan dengan mukjizat. Sebagian mukjizat nabi tersebut masih bisa kita saksikan sekarang ini, sehingga kita bisa membuktikan apakah agama tersebut benar-benar asli dari Pencipta atau tidak, dengan cara menentang mukjizat tersebut. Kalau mukjizat itu bisa kita kalahkan berarti bukanlah mukjizat.

Dalam pengetahuan agama, mukjizat bisa diartikan sebagai sesuatu yang luar biasa, muncul pada diri seorang yang mengaku menjadi Nabi, bersifat menantang dan tidak mungkin untuk ditandingi oleh siapapun. Kalau mukjizat bisa ditandingi oleh manusia tidak ada artinya mukjizat tersebut sebagai tanda kebenaran Rasulullah saw. Agama nantinya bisa dipalsukan oelh orang-orang yang mengaku menjadi nabi.

Agama islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Beliau dikuatkan dengan berbagai mukjizat seperti membelah bulan, Al Quran dsb. Mukjizat Nabi Muhammad saw yang masih bisa disaksikan adalah Al Quran . Al quran adalah mukjizat Nabi muhammad yang abadi sampai hari Kiamat.
Ciri-ciri kemukjizatan Alquran adalah : Dia merupakan kitab suci yang luar biasa hebatnya baik ditinjau dari segi keindahan susunan bahasa ataupun dari isinya. Dia diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw yang menantang semua orang kafir untuk menandinginya (lihat surat Al Baqarah 23-24 Yunus 37-39), tapi sampai sekarang tidak ada seorangpun yang mampu menandinginya.
Allah berfirman dalam surat Al Baqarah :

و إن كنتم فى ريب مما نزلنا على عبدنا فأتتوا بسورة من مثله وادعوا شهداءكم من دون الله إن كنتم صادقين فإن لم تفعلوا ولن تفعلوا فاتقوا النار التى وقود ها الناس والحجارة أعدت للكا فرين

Artinya : Bila Kamu sekalian ragu-ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (berupa Alquran), buatlah satu surat saja yang sepadan (dengan salah satu surat Alquran) dan panggillah penolong-penolongmu selain Allah bila kamu sekalian benar. Bila kami tidak bisa melakukannya dan pasti tidak akan bisa melakukannya, takutlah kepada api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, yang disiapkan untuk orang-orang kafir. ( Albaqarah 23-24).

Al Quran menantang orang-orang kafir yang ragu terhadap kebenaran Alquran untuk membuat suarat sepadan dengan Al Quran dari segi keindahan bahasa dan kebenaran isinya.

Kemukjizatan Al Quran menurut sebagian ulama terletak pada keindahan susunan kalimatnya dalam hal balaghah, fashahah dan keindahan ungkapannya. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa kemukjizatan Alquran terletak pada kesesuaian prinsip-prinsip al quran untuk seluruh umat manusia. Kalau seandainya prinsip-prinsip ajaran itu dari produk manusia atau produk masyarakat tertentu pasti tidak akan cocok untuk diterapkan sepanjang masa .

Sebagian ulama berpendapat bahwa kemukjizatan Al Quran terletak pada pemberitannya tentang hal-hal ghaib. Misalnya, dalam surat Ali Imran disebutkan sbb.:

Artinya : Katakanlah kepada orang-orang yang kafir:” Kamu pasti akan dikalahkan di dunia ini dan akan digiring ke dalam neraka jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur) Segolongan berperang di jalan Allah dan segolongan lain kafir yang dengan mata kepala seakan-akan orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka . Allah menguatkan dengan bantuanNya siapa yang dikehendakiNya, Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. ( Ali Imran 12-13)

Alquran telah memberitakan akhir dari masyarakat di jazirah Arabia dengan kemenangan umat islam atas orang-orang kafir. Padahal saat diturunkannya ayat tersebut orang kafir Quresy dalam kondisi kuat luar biasa baik dari segi kualitas dan kuantitas dan kaum mukminin berada dalam kelemahan .

Dalam surat Ar Rum Allah menyatakan :
Artinya :Alif laam miim, Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat (yaitu Syam) dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allahlah urusan sebelum dan sesudah mereka menang.Dan di hari kemenangan Romawi itu bergembiralah orang-orang yang beriman.( Ar Ruum 1-4)

Romawi dikalahkan oleh Persia dalam peperangan yang dimulai tahubn 603 M sampai setelah tahun 610 M pada masa Imperator romawi Heraklius yang memerintah dari tahun 610 M s/d 642 M. Pada perang tersebut Persia mengalahkan secara telah tentara Romawi. Aleppo, Damaskus dan sebagai besar kota-kota di Siria direbut oleh Persia. Yerussalem direbut tahun 614-615 yaitu tujuh tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Yerussalem dibakar diblokade dan orang-orang Nasrani diusir, gereja-gereja dibakar dan peninggalan-peninggalan bersejarah dirampas khususnya tiang salib yang diyakini kaum nasrani sebagai tempat digantungnya Yesus. Para tokoh agama Persia berpesta pora karena mengalahkan pendata dan pastur Nasrani.

Pada tahun 610 M Nabi Muhammad saw memulai dakwah kepada seluruh umat manusia. Dunia sedang disibukkan dengan berita kemenangan Persia atas Romawi. Akan tetapi Alquran menyebutkan bahwa kemenangan itu adalah kemenangan sementara yang akan disusul dengan kekalahan Persia setelah lewat beberapa tahun saja. Romawi akan mengalahkan Persia secara telak .

Ramalan ini benar. Romawi mendapatkan kemenangan atas Persia pada masa pemerintahan Heraklius atau setelah terjadinya hijrah Nabi ke Madinah. yaitu pada tauh 622 M. Pada sat itu Heraklius merayakan kemenangannya di Konstantinopel tahun 628 .

Pada saat kemenangan itu terdapat kabar gembira bagi umat mukminin . Karenan kemengnan itu akan disusul dengan kehancuran suatu umat. Kemengnan ada di fihak Romawi akan tetapi kemengan ini akan disusul dengan kehancuran imperium Romawi di Tmur dan juga di utara Afrika yang kemudian akan diwarisi oleh umat Islam.

Perang antara Persia dan Romawi adalah pendahuluan untuk kemnangan umat Islam di Jazirah Arabia dan sekitarnya. Kemangan umat Islam ini adalah kemangan yang diraih oleh umat Islam sendiri bukan hasil peperangan kedua super power tsb Mulai dari kemenganan di Badar, kemudian terus ke luar jazirah Arabia ke Persia dan akhirnya sampai ke Romawi.

Alquran memberitahukan dua hal yang terbukti setelah beberapa tahun kemudian:

  1. Sebelum hijrah ke Madinah Al Quran memberitahukan kemenagan Romawi atas Persia . Kemenangan ini baru terwujud 6 tahun setelah hijrah ke Madinah.
  2. Alquran memberitahukan bahwa Umat Islam akan bergembira dengan memengankan pertempuran atas orang-orang materialis di Mekkah , Persia dan Romawi.


Pemberitaan Alquran tentang hal-hal ghaib ini merupakan bukti kebenaran Rasulullah saw. Rasulullah bukanlah seorang yang ahli di bidang ini. Al Quran bukanlah dari Rasul akan tetapi dari Allah SWT.

Lain dari pada itu ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa Kemukjizatan Al Quran terletak pada keindahan bahasanya yang amat mampengaruhi hati sanubari manusia. Banyak orang yang masuk masuk Islam karena mendengarkan bacaan Al Quran, seperti Umar Bin Khattab, Najasyi dsb.

Kemukjizatan Alquran juga bisa dilihat dari segi kandungan keilmuan di dalamnya. Al Quran telah menyebutkan berbagai hakekat ilmiyah yang belum ditemukan para ilmuwan saat itu seperti bulatnya bumi, bergeraknya semua benda-benda angkasa dsb.

Kemu'jizatan Ilmiyah

Mukjizat yang diberikan Alah kepada setiap rasul disesuaikan dengan keistimewaan kaum di mana rasul itu diutus. Nabi Musa a.s. diberi mukjizat tongkat untuk mengungguli kehebatan sihir yang berkembang sat itu, Nabi Isa a.s diberi mukjizat bisa menghidupkan orng mati untuk menantang kemajuan ilmu kedokteran saat itu. Kalau kita amati semua mukjizat terdahulu bersifat indrawi yang bisa dirasakan atau dilihat. Yang sudah barang tentu pengaruhnya terbatas pada waktu tertentu dan terbatas pada risalah tertentujuga . Ketika risalah dipungkasi dengan Islam , Allah memberikan mukjizat yang abadi sampai akhir zaman demi memelihara agama Islam mendukung kenabian rasulullah SAW.

Kemukjizatan yang paling cocok bagi risalah akhir zaman yang menjadi pemungkas risalah samawiyah dan paling cocok untuk menghadapi berbagai level masyarakat adalah kemukjizatan ilmiyah.

Allah SWT berfirman dalam S. Al An’am ayat 19 yang artinya :
“Katakanlah : siapakah yang lebih kuat persaksiannya ? Katakanlah : “Allah” Dia menjadi saksi antara aku dan kamu dan AlQuran itu diwahyukan kepadaku suapaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepapda orang yang sampai AlQuran kepadanya.” Di antara persaksian itu adalah dengan mukjizat ilmiah yang terkadndung dalam Al Quran.

Allah berfirman dalam ssurat An Nisa’ ayat 166 yang artinya :
‘ Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu tetapi Allah engakui Alquran yang diturunkannya kepadamu Allah menurunkannya dengan ilmuNya.”

Dalam ayat yang diturunkan untuk membantah orang-orang kafir di atas terdapat penjelasan watak kemukjizatan ilmiyah Alquran yang tetap ada papda manusia dan akan terus muncul sesuai dengan perkembangan ilmu yang ditemukan manusia.

Dengan demikian kemukjizatan ilmiah Alquran akan dikenali oleh manusia pda setiap zaman . Rasulullah SAW pernah menyatakan :dalam haditsnya yang artinya :
“Tiadalah seorang nabi yang diutus kecuali diberikan kepadanya ayat atau mukjizat yang mendorong manusia beriman kepadanya. Akan tetapi yang diberikan kepadaku adalah wahyu yaitu alQuran) yang diwahyukan Allah kepadaku , maka aku berharap pengiutku adalah yang terbanyak dia antara pengikut para nabi lainnya pada hari kiamat kelak.” H. R al Bukhari dan Muslim . (lih Fathul Bari juz 9 hal 3 . dan Shohih Muslim Kitab al Iman)

Allah menghendaki agar setiap berita dan kejadian terjajdi pada waktu tertentu. Bila sutau peristiwa terjadi di hadapan kita maka akan terbersitlah makna-makna yang menunjukan kemukjizatan ayat-ayat yang ada dalam alQuran. Kemukjizatan ilmiah ini akan muncul sepanjang masa . Hal ini telah disitir oleh Allah dalam firmanNya yang artinya :”Untuk tiap-tiap berita yang dibawa oleh Rasul-rasul ada waktu terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.” ( al An’am 67)

Berdasarkan hal di atas para mufassirin berpendapat bahwa berita-berita tentang bumi, langit dalam al Quran akat tersingkap pada abad penemuannya dan sesunggunya berita yang dikandung Al quran merupakan berita dari Ilahi yang |Maha Mengetahui rahasia segala sesuatu.

Oleh sebab itu kita harus terus menggali kemukjizatan ilmiyah yang terkandung dalam Al Quran. Allah telah menyatakan dalam firmanNya yang artinya :
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami disegenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa AlQuran itu benar.” (Fushshilat 53)

Wallahu a’lamu bis showab.

Daftar bacaan:

  1. Dr. Juyusyi, Dirasaatun Qur aniyyah, Maktabah Al Azhar, Kairo.
  2. Dr. Al Bahy,m Nahwa Al Quran, Maktabah Wahbah , Kairo.
  3. Dr. Mun’im Khafaji, Al Qur’anu Mu’jizatun Ushuri, Al Haiah Al Misriyyah al Ammah lil kitab, Kairo.
  4. Mukhtashor Tafsir Ibni Katsir, Juz I dan III.
  5. Dr. Abdullah Mahmud Syahhatah, Ahdaaf Kulli Surah Wa Maqashidiha Fil Quranil Karim, Juz IV.

Sejarah Kebumen

SEJARAH KEBUMEN
Nama Kebumen konon berasal dari kabumian yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian PangeranBumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677, saat berkuasanya Sunan Amangkurat I. Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram di zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer. Salah seorang cicit Pangeran Senopati yaitu Bagus Bodronolo yang dilahirkan di desa Karanglo, Panjer, atas permintaan Ki Suwarno, utusan Mataram yang bertugas sebagai petugas pengadaan logistik, berhasil mengumpulkan bahan pangan dari rakyat di daerah ini dengan jalan membeli. Keberhasilan membuat lumbung padi yang besar artinya bagi prajurit Mataram, sebagai penghargaan Sultan Agung, Ki Suwarno kemudian diangkat menjadi Bupati Panjer, sedangkan Bagus Bodronolo ikut dikirim ke Batavia sebagai prajurit pengawal pangan.1 Januari 2003 atau ratusan tahun kemudian, predikat lumbung pangan andalan di Jawa Tengah selatan memang belum lepas dari daerah ini, meski sempat terganggu dengan parahnya bencana banjir pada tahun 2000 dan 2001 lalu. Paling tidak, kelebihan stok padi 100 sampai 150 ribu ton setahunnya, mampu menjadikannya salah satu penopang stok pangan di Kedu dan Banyumas.Bagaimanakah gambaran tentang pencapaian kiprah pembangunan daerah ini sampai akhir 2002, menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Kebumen, Suroso SH, barometernya pada berbagai kemajuan yang menonjol pada sektor-sektor pelayanan dasar bagi masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan serta pemukiman dan prasarana wilayah (kimpraswil)."Arah pembangunan Kabupaten Kebumen di era otonomi daerah ini sudah jelas, di antaranya dengan menitikberatkan terlebih dahulu pada pembangunan ketiga sektor itu," ujarnya.
sumber: Kebumen www.kebumen.itgo.com

Asal-Usul Kebumen

Nama Kebumen konon berasal dari kabumian yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677, saat berkuasanya Sunan Amangkurat I. Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram di zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer. Salah seorang cicit Pangeran Senopati yaitu Bagus Bodronolo yang dilahirkan di desa Karanglo, Panjer, atas permintaan Ki Suwarno, utusan Mataram yang bertugas sebagai petugas pengadaan logistik, berhasil mengumpulkan bahan pangan dari rakyat di daerah ini dengan jalan membeli. Keberhasilan membuat lumbung padi yang besar artinya bagi prajurit Mataram, sebagai penghargaan Sultan Agung, Ki Suwarno kemudian diangkat menjadi Bupati Panjer, sedangkan Bagus Bodronolo ikut dikirim ke Batavia sebagai prajurit pengawal pangan.1 Januari 2003 atau ratusan tahun kemudian, predikat lumbung pangan andalan di Jawa Tengah selatan memang belum lepas dari daerah ini, meski sempat terganggu dengan parahnya bencana banjir pada tahun 2000 dan 2001 lalu. Paling tidak, kelebihan stok padi 100 sampai 150 ribu ton setahunnya, mampu menjadikannya salah satu penopang stok pangan di Kedu dan Banyumas.Bagaimanakah gambaran tentang pencapaian kiprah pembangunan daerah ini sampai akhir 2002, menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Kebumen, Suroso SH, barometernya pada berbagai kemajuan yang menonjol pada sektor-sektor pelayanan dasar bagi masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan serta pemukiman dan prasarana wilayah (kimpraswil)."Arah pembangunan Kabupaten Kebumen di era otonomi daerah ini sudah jelas, di antaranya dengan menitikberatkan terlebih dahulu pada pembangunan ketiga sektor itu," ujarnya.

KEMATIAN RASULULLAH SAW

Detik-Detik Terakhir Kewafatan Rasulullah SAW
Daripada Ibnu Mas'ud r.a., bahawasanya dia berkata: "Ketika ajal Rasulullah saw sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aishah r.a
Kemudian baginda memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda: Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah."
"Allah berfirman: Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa."
Kemudian kami bertanya: "Bilakah ajal baginda ya Rasulullah?"
Baginda menjawab: "Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyila."
Kami bertanya lagi: "Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah?"
Rasulullah menjawab: "Salah seorang ahli bait."
Kami bertanya: "Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?"
Baginda menjawab: "Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah."
Kami bertanya: "Siapakah yang mensolatkan baginda di antara kami?" Kami menangis dan Rasulullah saw pun turut menangis.
Kemudian baginda bersabda: "Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku. Kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya.
Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula solat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua."

SEMAKIN TENAT
Semenjak hari itu, Rasulullah saw bertambah sakitnya yang ditanggungnya selama 18 hari. Setiap hari, ramai yang mengunjungi baginda, sampailah datangnya hari Isnin, disaat baginda menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sehari menjelang baginda wafat iaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah selesai mengumandangkan azannya, dia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah, kemudian memberi salam: "Assalamualaikum ya Rasulullah?"
Kemudian dia berkata lagi: "Assolah yarhamukallah."
Fatimah menjawab: "Rasulullah dalam keadaan sakit."
Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid. Ketika bumi terang disinari matahari siang, maka Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu dia berkata seperti perkataan yang tadi.
Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh dia masuk. Setelah Bilal bin Rabah masuk,
Rasulullah saw bersabda: "Saya sekarang berada dalam keadaan sakit. Wahai Bilal, kamu perintahkan sahaja agar Abu Bakar menjadi imam dalam solat."
Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata: "Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?" Kemudian dia memasuki masjid dan memberitahu Abu Bakar agar beliau menjadi imam dalam solat tersebut. Ketika Abu Bakar r.a. melihat ke tempat Rasulullah SAW yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, dia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu dia menjerit dan akhirnya dia pengsan. Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi bising sehingga terdengar oleh Rasulullah saw.
Baginda bertanya: "Wahai Fatimah, suara apakah yang bising itu?"
Siti Fatimah menjawab: "Orang-orang menjadi bising dan bingung kerana Rasulullah saw tidak ada bersama mereka."
Kemudian Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Talib dan Abbas r.a. Sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda solat dua rakaat.
Setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda: "Ya ma aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah. Sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua, setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini."

MALAIKAT MAUT DATANG BERTAMU
Pada hari esoknya iaitu pada hari Isnin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya dia turun menemui Rasulullah saw dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah saw dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka dia dibolehkan masuk. Tetapi jika Rasulullah saw tidak mengizinkannya, dia tidak boleh masuk dan hendaklah dia kembali sahaja.
Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Dia menyamar sebagai seorang biasa. Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah saw,
Malaikat Maut itupun berkata: "Assalamualaikum wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!"
Fatimah pun keluar menemuinya dan berkata kepada tamunya itu: "Wahai Abdullah (hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit."
Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: "Assalamualaikum, bolehkah saya masuk?"
Akhirnya Rasulullah saw mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah: "Siapakah yang ada di muka pintu itu?"
Fatimah menjawab: "Seorang lelaki memanggil baginda. Saya katakan kepadanya bahawa baginda dalam keadaan sakit. Kemudian dia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma."
Rasulullah saw bersabda: "Tahukah kamu siapakah dia?"
Fatimah menjawab: "Tidak wahai baginda."
Lalu Rasulullah saw menjelaskan: "Wahai Fatimah, dia adalah pengusir kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur.
Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Masuklah, wahai Malaikat Maut."
Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan: "Assalamualaika ya Rasulullah."
Rasulullah saw pun menjawab: "Waalaikassalam ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?"
Malaikat Maut menjawab: "Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan. Jika tidak, saya akan pulang."
Rasulullah saw bertanya: "Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril?"
Jawab Malaikat Maut: "Saya tinggal dia di langit dunia."
Baru sahaja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril a.s. datang lalu duduk di samping Rasulullah saw.
Maka bersabdalah Rasulullah saw: "Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahawa ajalku telah dekat?"
Jibril menjawab: "Ya, wahai kekasih Allah."

KETIKA SAKARATUL MAUT:
Seterusnya Rasulullah saw bersabda: "Beritahu kepadaku wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya?"
Jibril pun menjawab: "Bahawasanya pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu."
Baginda saw bersabda: "Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku?"
Jibril menjawab lagi: "Bahawasanya pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu."
Baginda saw bersabda lagi: "Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang disediakan Allah untukku?"
Jibril menjawab: "Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti."
Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Segala puji dan syukur aku panjatkan untuk Tuhanku. Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku."
Jibril a.s. bertanya: "Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan?"
Rasulullah saw menjawab: "Tentang kegelisahanku. Apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?"
Jibril menjawab: "Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu."
Maka berkatalah Rasulullah saw: "Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku. Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku."
Lalu Malaikat Maut pun mendekati Rasulullah saw.
Ali r.a. bertanya: "Wahai Rasulullah saw, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya?"
Rasulullah menjawab: "Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga."
Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah saw. Ketika roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: "Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut."
Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril a.s. memalingkan mukanya.
Lalu Rasulullah saw bertanya: "Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku?"
Jibril menjawab: "Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?"
Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah saw.

KESEDIHAN SAHABAT
Berkata Anas r.a.: "Ketika aku lalu di depan pintu rumah Aisyah r.a., aku terdengar dia sedang menangis sambil mengatakan: Wahai orang-orang yang tidak pernah memakai sutera, wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum, wahai orang-orang yang telah memilih tikar daripada singgahsana, wahai orang-orang yang jarang tidur diwaktu malam kerana takut Neraka Sa'ir."
Dikisahkan dari Said bin Ziyad dari Khalid bin Saad, bahawasanya Muaz bin Jabal r.a. telah berkata: "Rasulullah saw telah mengutusku ke Negeri Yaman untuk memberikan pelajaran agama di sana. Maka tinggallah aku di sana selama 12 tahun. Pada satu malam aku bermimpi dikunjungi oleh seseorang. Kemudian orang itu berkata kepadaku: Apakah anda masih lena tidur juga wahai Muaz, padahal Rasulullah saw telah berada di dalam tanah?"
Muaz terbangun dari tidur dengan rasa takut, lalu dia mengucapkan: "A'uzubillahi minasy syaitannir rajim." Lalu setelah itu dia mengerjakan solat. Pada malam seterusnya, dia bermimpi seperti mimpi malam yang pertama.
Muaz berkata: "Kalau seperti ini, bukanlah dari syaitan." Kemudian dia memekik sekuat-kuatnya, sehingga didengar sebahagian penduduk Yaman. Pada keesokan harinya, orang ramai berkumpul lalu Muaz berkata kepada mereka: "Malam tadi dan malam sebelumnya saya bermimpi yang sukar untuk difahami. Dahulu, bila Rasulullah saw bermimpi yang sukar difahami, baginda membuka Mushaf (al-Quran). Maka berikanlah Mushaf kepadaku." Setelah Muaz menerima Mushaf, lalu dibukanya. Maka nampaklah firman Allah yang bermaksud: "Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula." (Surah Az-Zumar: ayat 30)
Maka menjeritlah Muaz, sehingga dia tidak sedarkan diri. Setelah dia sedar kembali, dia membuka Mushaf lagi dan dia nampak firman Allah yang berbunyi: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada orang-orang yang bersyukur?" (Surah Al-lmran: ayat 144) Maka Muaz pun menjerit lagi: "Aduhai Abal-Qassim. Aduhai Muhammad."
Kemudian dia keluar meninggalkan Negeri Yaman menuju ke Madinah. Ketika dia akan meninggalkan penduduk Yaman, dia berkata: "Seandainya apa yang ku lihat ini benar, maka akan meranalah para janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan kita akan menjadi seperti biri-biri yang tidak ada pengembala."
Kemudian dia berkata: "Aduhai, sedihnya berpisah dengan Nabi Muhammad saw." Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka. Di saat dia berada pada jarak lebih kurang tiga hari perjalanan dari Kota Madinah, tiba-tiba terdengar olehnya suara halus dari tengah-tengah lembah yang mengucapkan firman Allah yang bermaksud: "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."
Lalu Muaz mendekati sumber suara itu. Setelah berjumpa, Muaz bertanya kepada orang tersebut: "Bagaimana khabar Rasulullah saw?" Orang tersebut menjawab: "Wahai Muaz, sesungguhnya Muhammad saw telah meninggal dunia." Mendengar ucapan itu, Muaz terjatuh dan tak sedarkan diri. Lalu orang itu menyedarkannya. Dia memanggil Muaz: "Wahai Muaz, sedarlah dan bangunlah."
Setelah Muaz sedar kembali, orang tersebut lalu menyerahkan sepucuk surat untuknya yang berasal dari Abu Bakar As-siddiq, dengan cop dari Rasulullah saw. Tatkala Muaz melihatnya, dia lalu mencium cop tersebut dan diletakkan di matanya. Kemudian dia menangis dengan tersedu-sedu. Setelah puas dia menangis, dia pun melanjutkan perjalanannya menuju Kota Madinah. Muaz sampai di Kota Madinah pada waktu fajar menyingsing. Didengarnya Bilal sedang mengumandangkan azan Subuh. Bilal mengucapkan: "Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah?" Muaz menyambungnya: "Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah." Kemudian dia menangis dan akhirnya dia jatuh dan tak sedarkan diri lagi.
Pada saat itu, di samping Bilal bin Rabah ada Salman Al-Farisy r.a. lalu dia berkata kepada Bilal: "Wahai Bilal, sebutkanlah nama Muhammad dengan suara yang kuat dekatnya. Dia adalah Muaz yang sedang pengsan." Setelah Bilal selesai azan, dia mendekati Muaz, lalu dia berkata: "Assalamualaika, angkatlah kepalamu wahai Muaz, aku telah mendengar dari Rasulullah saw, baginda bersabda: Sampaikanlah salamku kepada Muaz." Maka Muaz pun mengangkatkan kepalanya sambil menjerit dengan suara keras, sehingga orang-orang menyangka bahawa dia telah menghembuskan nafas yang terakhir. Kemudian dia berkata: "Demi ayah dan ibuku, siapakah yang mengingatkan aku pada baginda, ketika baginda akan meninggalkan dunia yang fana ini, wahai Bilal? Marilah kita pergi ke rumah isteri baginda Siti Aisyah r.a." S
etelah sampai di depan pintu rumah Siti Aisyah, Muaz mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahlil bait, wa rahmatullahi wa barakatuh." Yang keluar ketika itu adalah Raihanah, dia berkata: "Aisyah sedang pergi ke rumah Siti Fatimah." Kemudian Muaz menuju ke rumah Siti Fatimah dan mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahlil bait."
Siti Fatimah menyambut salam tersebut, kemudian dia berkata: "Rasulullah saw bersabda: Orang yang paling alim di antara kamu tentang perkara halal dan haram adalah Muaz bin Jabal. Dia adalah kekasih Rasulullah saw." Kemudian Fatimah berkata lagi: "Masuklah wahai Muaz." Ketika Muaz melihat Siti Fatimah dan Aisyah r.a., dia terus pengsan dan tak sedarkan diri. Setelah dia sedar, Fatimah lalu berkata kepadanya: "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Sampaikanlah salam saya kepada Muaz dan khabarkan kepadanya bahawasanya dia kelak dihari kiamat sebagai imam ulama." Kemudian Muaz bin Jabal keluar dari rumah Siti Fatimah menuju ke arah kubur Rasulullah saw.
(Dipetik dari buku 1001 Duka - Himpunan Kisah-kisah Menyayat Hati)

Bilal Kisah


Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda' (putra wanita hitam).
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Sholallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu'minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, 'Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh'afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung... , dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal-semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad ... (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ....“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad....”Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan 'Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah2 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad..., Ahad..., Ahad..., Ahad....” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas1.Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, "Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya."Abu Bakar membalas, "Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya..."Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, "Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar."Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, "Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah."Setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu.. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan 'Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih,Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nantiAku bermalam di Fakh3 dikelilingi pohon idzkhir4 dan jalilAkankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah5Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil6
Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman.... Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah.... Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam.. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanyma saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan RasulullahSholallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati...(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan....)” Lalu, ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa' (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.Bilal menyertai Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama 'sang pengumandang panggilan langit', Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka'bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka'bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka'bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Sholallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, "Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu.... Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi." Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.Khalid bin Usaid berkata, "Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini." Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, "Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka'bah."Al-Hakam bin Abu al-'Ash berkata, "Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka'bah)."Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, "Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah."Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, "Ahad..., Ahad... (Allah Maha Esa)."Sesaat setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, "Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya."Abu Bakar menjawab, "Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah."Bilal menyahut, "Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat."Abu Bakar menjawab, "Baiklah, aku mengabulkannya." Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali,"Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal)."Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..BiIal, "pengumandang seruan langit itu", tetap tinggal di Damaskus hingga wafat. Saat menjelang kematiannya, istri Bilal menunggu di sampingnya dengan setia seraya berkata, "Oh, betapa sedihnya hati ini...."Tapi, setiap istrinya berkata seperti itu, Bilal membuka matanya dan membalas, "Oh, betapa bahagianya hati ini.... " Lalu, sambil mengembuskan napas terakhirnya, Bilal berkata lirih,"Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih...Muhammad dan sahabat-sahabatnyaEsok kita bersua dengan orang-orang terkasih...Muhammad dan sahabat-sahabatnya"1) Satu Uqiyah adalah jenis berat timbangan. Konversi berat Uqiyah di beberapa negara Arab berbeda. Sebagai contoh, di Mesir 1 Uqiyah = 37 gram. Sementara di Halab, 1 Uqiyah = 320 gram. Lihat: Mu'jam al-Lughah al-'Arabiyah al-Mu'aashirah, karya Hans Wehr.2) Abthah adalah saluran air yang mengering sehingga yang tersisa hanya pasir dan batu kerikil.3) Nama suatu daerah dekat Mekah.4) Idzkhir adalah sejenis tumbuhan yang menyebarkan bau harum.5) Mijannah adalah salah satu pasar bangsa Arab pada masa Jahiliah. Jaraknya sekitar 12 Mil dari Mekah.6) Syamah dan Thafil adalah nama gunung di Mekah.
Sumber: Shuwar min Hayaati ash-Shahabah

Tujuh Karomah Pencari Ilmu

Diterjemahkan oleh:
Adriyanto
(Tepakyang Adimulyo Kebumen)

يُقَالُ: مَنْ ذَهَبَ إِلَى عَالِمِ وَجَلَسَ عِنْدَهُ وَلَمْ يَقْدِرُ عَلَى حِفْظِ شَيْئٍ مِمَّا قَالَهُ أَعْطَاهُ اللهُ سَبْعَ كَرَامَاتٍ.أَوَّلُهَا: يَنَالُ فَضْلَ المُتَعَلِّمِيْنَ. وَثَانِيْهَا: مَا دَامَ عِنْدَهُ جَالِسًا كَانَ مَحْبُوْسًا عَنْ الذُنُوْبِ وَالخَطَايَا. وَثَالِثُهَا: إِذَا خَرَجَ مَنْ مَنْزِلِهِ نَزَلَتْ عَلَيْهِ الرَحْمَةُ. وَرَابِعُهَا: إِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ نَزَلَتْ الرَحْمَةُ عَلَى العَالِمِ فَتُصِيْبُهُ بِبَرَكَتِهِ. وَخَامِسُهَا: تُكْتَبُ لَهُ الحَسَنَاتُ مَا دَامَ مُسْتَمِعًا. وَسَادِسُهَا: تَحَفُّهُمْ المَلَائِكَةُ بِأَجْنَحَتِهِمْ وَهُوَ فِيْهِمْ. وَسَابِعُهَا: كُلُّ قَدَمٍ يَرْفَعُهَا وَيَضَعُهَا تَكُوْنُ كَفَارَةٌ لِلْذُنُوْبِ وُرَفَعَا لِلْدَرَجَاتِ وَزِيَادَةٍ فِي الحَسَنَاتِ. هَذَا لمَِنْ لَمْ يَحْفَظْ شَيْئًا، وَأَمَّا الَّذِي يَحْفَظُ فَلَهُ أَضْعَافٌ ذَلِكَ مُضَاعَفَةً (إعانة الطالبين - البكري الدمياطي ج 1 ص 23)

Barang siapa yang mendatangi orang alim dan duduk disisinya walaupun tidak mampu untuk menghafal apa yang disampaikannya maka Allah memberikan 7 kemuliaan padanya: Pertama, memperoleh anugerah/karunia dari para pencari ilmu. Kedua, selama masih bersamanya ia terjaga dari perbuatan dosa dan salah. Ketiga, saat keluar rumah turun rahmat untuknya. Keempat, ketika ia duduk dengan orang alim turunlah pada orang alim tersebut rahmat dan barokah orang alim tersebut mengena orang yang ada disisinya. Kelima, ditulis baginya kebaikan-kebaikan selama masih mendengarkannya. Keenam, para pencari ilmu dikelilingi oleh sayap para malaikat, sementara ia ada bersamanya.
Kejutuh, setiap langkahnya menjadi pelebur dosa, mengangkat derajat dan menambah kebaikan. Semua ini bagi orang yang tidak menghapal apa yang disampaikannya. Apalagi bagi yang hapal pasti dilipat gandakan.

20 Hari Jadi Kyai Di Manggung

Pada hari senin tanggal 1 september 2008 atau 1 ramadlon 1429 kami para kyai 20 hari utusan pondok pesantren Nurul Umah berangkat berdakwah di Gunung Kidul, yang mana ini adalah utusan dari LP2M PP Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta. 20 Hari Jadi Kyai ini adalah program rutinan setiap satu tahun sekali Madrasah Diniah Nurul Ummah yang diwajibkan bagi kelas I ulya yang akan naik ke II Ulya. Diantara 20 Hari Jadi Kyai yaitu Relawan, aku sendiri II Wustho yang mana aku di tempatkan di dusun manggung RT 04 dan penempatan ini merupakan kedua kalinya aku di Manggung yang mana sebelumnya pada Bulan Ramadhon 2006 dan Amrullah I Wustho. sementara yang wajib adalah Alim Khoiri, Muhammad Fahmi, Raudak, Yunus Jamhuri, Yunus, Afif Muammar, Mbah Faiz, Doni Khoirul Aziz. Ghozin Asror, Fattullah, arif wahyudi, ibni tritsal adam, badarudin, musthofa Aziz dan Hafidh.
Dalam waktu 15 hari di dusun manggung terutama RT 04 al hamdulillah sudah khatam dua kali. pertama kali khatam pada hari senin kedua setelah teraweh. bersambung

PENERJEMAHAN KARYA SASTRA (ARAB – INDONESIA) 2


1. Pengantar

Saat ini, karya sastra berupa novel, cerita pendek (cerpen) dan puisi dari berbagai bahasa di dunia telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di antara karya sastra asing yang telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah dari bahasa Arab. Penerjemahan literature berbahasa Arab di Indonesia, terutama literature-literatur keagamaan, sudah berlangsung sejak awal penyebaran agama Islam di Nusantara. Seiring perjalanan waktu, di tengah-tengah penerjemahan dan penafsiran literature-literatur keagamaan ke dalam bahasa Indonesia, maka karya sastra Arab pun termasuk literature Arab yang diterjemahkan, baik karya sastra klasik seperti Kalilah wa dumnah dan Alfu Lailah wa lailah, maupun karya sastra Arab modern, mulai yang terbit di penghujung abad ke-19, sampai dengan masa kontemporer sekarang ini. Penerjemahan karya sastra Arab di Indonesia semakin marak ketika pada decade delapan puluhan, Naguib Mahfoudh, sastrawan Arab dari Mesir mendapatkan hadiah Nobel Sastra pada tahun 1988, dengan triloginya sebagai novel masterpisnya.

Memasuki decade ketiga dari tahun delapanpuluhan, khazanah sastra Indonesia dimarakkan oleh sejumlah karya sastra terjemah dari bahasa Arab. Karya-karya Naguib Mahfoudh, Naguib El-Kilani, Thoha Husein, ‘Aqqad, Taufiq El-hakim, Musthofa Luthfi El-Manfaluthi, Gibran Khalil Gibran, Zuhair Jumjum, Nawal El-Sa’adawi, Samirah Bintil Jazirah, dan masih banyak lagi nama para sastrawan Arab yang muncul dalam khazanah sastra Indonesia terjemah yang meramaikan toko-toko buku, baik karya fiksi terjemah untuk orang dewasa, maupun untuk pembaca anak-anak.

Meski sudah beratus karya sastra Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tapi masih lebih banyak yang belum diterjemahkan ketimbang yang sudah diterjemakan. Oleh karena itu,para penerjemah karya sastra Arab-Indonesia masih tetap diperlukan sampai kapan pun . Yang penting dalam persaingan positif yang ketat di dunia penerjemahan, semakin hari penerjemah semakin dituntut untuk terus membekali diri dan mengasah keterampilan menerjemahkan, baik karya fiksi maupun karya ilmiah, sehingga hasil karya terjemahnya semakin baik dan enak dibaca.

2. Persiapan Menerjemahakan Karya Sastra (Arab-Indonesia)

Di antara hal yang harus diperhatikan oleh penerjemah karya sastra dalam upaya meningkatkan kualitas terjemahan karya fiksi atau karya sastra, di samping penguasaan teori-teori penerjemahan sebagai acuan, penerjemah harus membekali diri dengan beberapa hal berikut sebagai modal awal untuk berkarya:

1) Citarasa bahasa (dzauq al-lughah): Modal utama bagi seorang penerjemah adalah "citarasa" bahasa. "Citarasa" bahasa bukan sesuatu yang dapat dipelajari, tetapi merupakan bakat bawaan, sama seperti bakat bermain musik, melukis dan sebagainya. Tanpa memiliki "citarasa" bahasa, mustahil seseorang dapat menghasilkan karya terjemahan yang mengalir dengan lancar. Ada orang yang memiliki "citarasa" bahasa, ada yang tidak. Kadarnya pun berbeda-beda: ada yang besar, ada yang kecil. Tetapi seperti bakat-bakat di bidang lain, "citarasa" bahasa ini pun dapat diasah dan dikembangkan. Di sini berlaku rumus 10% inspirasi, 90% perspirasi. Bagi penerjemah otodidak, "citarasa" bahasa menjadi acuan utama dalam berkarya.Citarasa bahasa dapat dikembangkan melalui kegiatan membaca, terutma membaca karya sastra, baik prosa maupun puisi, baik dalam bahasa sumber maupun dalam bahasa sasaran.

2) Penguasaan bahasa sumber: Penguasaan bahasa sumber dengan baik merupakan prasyarat bagi penerjemah untuk memahami semua detil dan nuansa yang terdapat pada suatu karya asli.

3) Penguasaan bahasa sasaran: Penguasaan bahasa sasaran dengan baik merupakan prasyarat agar semua detil dan nuansa karya asli dapat muncul pula dalam karya terjemahan. Selain itu, penguasaan bahasa sasaran juga amat perlu untuk menghasilkan naskah yang enak dibaca.

4) Mengenal/menguasaibudaya yang melingkupi bahasa sumber: Budaya di sekitar bahasa sumber dapat dipelajari melalui berbagai media, antara lain buku, lagu, film dan interaksi sosial.

5) Keakraban dengan budaya yang melingkupi bahasa sasaran: Interaksi sosial dan pengamatan sangat membantu penerjemah untuk memahami budaya yang melingkupi bahasa sasaran, sehingga mempermudah pemilihan padanan yang tepat untuk situasi atau konteks tertentu.

6) Pengetahuan umum yang luas: Dalam bekerja penerjemah karya fiksi akan menghadapi naskah dengan berbagai latar belakang, sehingga pengetahuan umum yang luas merupakan bantuan yang sangat berharga.

7) Sumber referensi yang mendukung.

Semua hal di atas merupakan modal yang sangat membantu penerjemah. Modal ini tidak bersifat instan atau langsung jadi, melainkan merupakan hasil akumulasi selama seorang penerjemah menekuni profesi penerjemahan.

3. Strategi penerjemahan

Dalam penerjemahan karya sastra atau karya fiksi, dapat dikembangkan suatu strategi penerjemahan yang langkah-langkahnya sebagai berikut:

1) Langkah pertama, penerjemah membaca karya fiksi yang akan diterjemahkan sampai tuntas. Hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran umum berkenaan dengan para tokoh, alur cerita, setting, nada penuturan, pesan yang tersirat, dsb.

2) Langkah kedua, penerjemah mencari informasi tambahan mengenai buku yang akan diterjemahkan itu, baik menyangkut isi maupun latar belakang, termasuk mengenai pengarang.

3) Langkah ketiga, setelah memperoleh informasi yang lumayan lengkap, penerjemah memutuskan gaya bertutur mana yang paling sesuai.

4) Langkah keempat, penerjemah membaca bab yang akan diterjemahkan sambil menandai bagian-bagian yang mungkin menjadi masalah, sekadar sebagai persiapan mental.

5) Langkah kelima, penerjemah mulai dengan proses penerjemahan, dengan aktifitas:

· penerjemah menerjemahkan sambil mencari padanan yang tidak langsung terpikir. Artinya proses penerjemahan sering kali terputus karena penerjemah harus membuka kamus. Bagi penerjemah, hal ini lebih mudah daripada mencari padanan secara terpisah. Setiap kalimat bisa dibongkar-pasang berulang kali sampai penerjemah mendapatkan susunan kata yang terasa pas.

· Baru setelah satu bagian (kalimat/paragraf/bab) selesai dikerjakan, penerjemah berlanjut ke bagian berikut. Bagian yang sudah lewat tidak diutak-atik lagi, kecuali jika tiba-tiba ada ilham yang bisa menjadikan bagian itu jauh lebih baik daripada sebelumnya. l

Bisa saja dalam proses penerjemahan, penerjemah menempuh langkah pertama dan langsung ke langkah ke-5.

4. Materi Praktik penerjemahan karya sastra (Arab – Indonesia)

a. Prosa:

1. Materi Praktek (1)

الصراع... ( لمحمد نديم )

في طفولتنا. لم يكن، يشك، من يرانا معاً.. أننا توأمان فقد ولدنا، في سنة واحدة. وفي حي واحد. وفي بيتين متجاورين. حتى أن اسمي، كان حسن. واسمه حسين.

ومثلما، كنت الذكر الوحيد. بين عدة بنات. كان هو كذلك. و رغم فقر أهلينا، المدقع، فقد كان لي، وله، دالة في أسرتينا. استثمرناها، في أمر واحد.. وهو عدم معارضتنا، في رفقتنا المستمرة. من الصباح، وحتى وقت النوم. دون أن يكلفنا ذوونا -وكما هي العادة- في عطلة المدارس الصيفية، في عمل من الأعمال. في سوق البلدة. أدركنا. في سن مبكرة.. أننا فقراء. وأن هناك، بالمقابل، الأغنياء. كانت بلدتنا، صغيرة. وكانت مقسمة، بحدود وهمية، إلى مجتمعات، لا تلتقي، إلا على الطريق العام. الذي يمتد من الغرب. وهو مدخل البلدة، إلى الشرق، حيث المزارع والبساتين، والنهر الصغير القادم من الشمال. والذي يجف ماؤه، تقريباً في الصيف.

في أمسيات الصيف. كان جميع سكان، البلدة. يخرجون إلى الطريق العام. الذي يتحول، في ظاهر البلدة، إلى درب ترابي، متعرج. بعد الجسر الصغير، القائم على النهر.

في شمال البلدة. كانت ترتفع، على الهضبة، الخضراء، ثلاث قصور. تبدو لنا. من خلال واجهاتها المرتفعة، وأبوابها الكبيرة. المغلقة على الدوام، وكأنها خالية، من الحياة.

في غرب البلدة. كانت تتوضع دوائر الحكومة. خلالها كانت تتوزع، بيوت الموظفين. أما بيوتنا -نحن الفقراء- فقد كانت تتميز بأسقفها الواطئة. وألوانها التي كانت تشكل، امتداداً، لأزقتها الترابية. وكانت تقع في الجهة الجنوبية. على ظاهر البلدة.

في المدرسة الريفية. كنا نلتقي، جميعاً. نحن، وأولاد الأغنياء، وأولاد الموظفين. وكنا الأكثرية. وكان من المفروض. أن تذوب الأقلية.. فينا.. لكن تلك الحدود الوهمية. كانت تفصل، كل فئة، عن الأخرى، كنا نجري. ونقفز. ويدفع بعضنا، البعض الآخر. وقد يقع أحدنا، على الأرض الترابية. فتزداد ثيابه، وساخة، وقد تتمزق. لا يهم. فالرقع، سوف تزداد، واحدة أخرى.

أما أولاد الأغنياء فكانوا يتفرجون علينا. وهم يقفون على أطراف الساحة. يمضغون ما تمتلئ به جيوبهم. وكان يشاركنا، أحياناً، أولاد الموظفين، لعبنا. لكن دون الدخول، في عمق الساحة.

وأخذنا نكبر. أنا وحسين. وأخذت أحلامنا تكبر، معنا. واكتشفنا، فيما بعد. أن كل الناس.. يحلمون، مثلنا.

وجاء اليوم. الذي تحققت فيه، أحلامنا، وأحلام الناس. وانهارت، كل الحدود، في بلدتنا الصغيرة. وأصبحت الأكثرية، الفقيرة، صاحبة الكلمة الأولى. وكانت خطوتنا، الأولى، على طريق الأحلام المتحققة. هي دخولنا المدرسة الاعدادية. ذلك الحاجز الذي كان يقف، عنده، أبناء الفقراء.

وجرت مياه كثيرة. في النهر الصغير، القادم من الشمال. وأشاد الفقراء بيوتاً كثيرة، على الهضبة الخضراء. خلف قصور الأغنياء. وإن كانت البيوت الجديدة، عمادها اللبن الترابي. إلا أنها كانت مطلية بالكلس الأبيض. وأصبحت سقوفها، أكثر ارتفاعاً.. وحملنا، أنا وحسين، أهلية التعليم. وأصبحنا معلمين، في المدرسة الريفية. وانتسبنا إلى الجامعة.. من بعيد. وتسنمنا، بهذا الانجاز، قمة الأحلام.. وفي هذه المرحلة، من حياتنا.. أحببنا، وداد.

لا عجب. أن نحب، سوية. فتاة واحدة. ألسنا كياناً واحداً، في اثنين. لكن العجيب، في الأمر. أن وداد، أحبت.. كلينا. وكانت في حيرة، من أمرها.. أينا تختار. إلا أنها اعترفت لي، بعد شهور. بأنها تحبني، أكثر قليلاً، من حسين. ولكنها لا تريد أن تغضب رفيقي. وكان رد فعلي. عجيباً أيضاً. عندما أخبرت وداد.. أني أنا أيضاً. أخاف أن يغضب حسين، مني، بسببها.

كان يبدو لنا. أن مشكلتنا مع وفاء، لا حل لها. وكان هذا الأمر، يتفاقم، يوماً، بعد يوم. حتى خيل إلينا. أنه سوف يقضي، على علاقتنا. التي لم يكن يخطر، على بال أي منا. أن أي أمر. يمكن أن ينال منها.

وجاء الحل، من السماء. فقد تم ترشيح حسين، للتعاقد مع دولة خليجية، للتعليم.. هناك. وبقدر ما كان حزني على مفارقة حسين، كبيراً. فقد كان الشعور بالذنب كبيراً أيضاً. لأني فرحت لسفر حسين، الذي جعل وداد تصبح لي، صافية.. وظل هذا الشعور بالذنب يؤرقني.. زمناً طويلاً.

وكانت الرسائل هي وسيلة حضور أحدنا، أمام الآخر. رغم البعد. فقد تعاهدنا، عند الوداع. أن نجعل، بين الرسالة والأخرى، أسبوعاً، فقط. وأن نسطر في الرسالة، حياتنا خلال الأسبوع. دون أن نغفل.. أي أمر. إلا أني -رغماً عني- كنت أخفي عليه، تطور علاقتنا، أنا ووداد. رغم أنه، وفي كل رسالة، كان يستحثني، على الحديث، عنها.

بعد سنة. أخذ يحدثني، عن الفائض الكبير، من مرتبه. وكيف أنه، بإمكانه، أن يفعل، في المستقبل، أشياء كثيرة، هنا، في البلدة، بالمقابل. كنت أحدثه، عن تناقص قيمة، مرتبي، هنا يوماً بعد يوم. وكيف أني. سأجد نفسي، في المستقبل. وأنا عاجز عن أن أفعل، أي شيء.

ومرت سنوات أخرى. خلال آخر سنة. كانت رسائل حسين، تتناقص باستمرار. وكذلك عدد صفحاتها. ثم انقطعت رسائله، تماماً، في نهاية العام الماضي. ومن العجيب. أني كنت، قد توقعت، هذه النهاية. لأني، لم أكن أكتب له، إلا عن اليأس، الذي استقر، داخل نفسي. وكان يتفاقم، يوماً بعد يوم. وعن هذه الأيام. التي جعلتني أتحسر، على أحلامنا التي كنا نتعاطاها، ونحن صغار. لقد كانت أحلامنا، آنذاك. طليقة. ولم يكن ادراكنا القاصر. يتصور أن تقف أمام الأحلام أية قيود أو سدود. أحلامنا اليوم تحولت إلى كوابيس. فالراتب رغم أني كنت مستقلاً به. لم يكن يتحمل أن يرفع عليه أي بناء.

كان عليّ. أن أجمع مهر وداد وأن أبني لها ولو غرفة صغيرة ضمن دار الأسرة، وفيما كنت أتخبط في حيرتي المستمرة منذ سنوات محاولاً أن أحل هذه المعادلة المستحيلة. عاد حسين من الغربة فجأة. وعندما التقينا ضممته إلى صدري بقوة، وأنا أغمره بقبلاتي والدموع تجول في عيني. بينما هو كان يضحك وهو يخلص نفسه، من بين ذراعي. وجلسنا على الأرض وأنا ما زلت أمسك بيده. ثم خلص يده من يدي وهو يقول:

-أول هدية ستكون من نصيبك..

ثم قام إلى إحدى الحقائب الكبيرة المرصوفة، في صدر الغرفة وأخرج علبة وقال:

-هذا من مستلزمات السياسي. أنت تحب الأخبار وهذا (الراديو) له عشر موجات يعطيك الأخبار، من كل إذاعات العالم.

شعرت بعد ساعة أن ذلك الحبل الذي يربطني مع حسين وكأنه قد انقطع منذ زمن بعيد، حاولت أن أعيده إلى الماضي، لكنه هز يده بشدة كأنه يطرد الماضي.. بعيداً أخذ يسأل المختار الذي كان يقلب هديته، بين يديه عن أسعار العقارات في البلدة. عرضت عليه أن نذهب في جولة.. عند النهر، لكنه اعتذر بشدة عن الذهاب إلى أي مكان فقد كان يتوجب عليه من الغد أن يراجع في مركز المحافظة عدداً من الدوائر وقد تستغرق هذه المهمات أسبوعاً أو أكثر من إجازته القصيرة.

نسيت هديته، على الأرض وأنا أغادر المكان لحق بي، وهو يضحك. خيل إلي أنه غير رأيه وسوف يأخذني في جولة. ولو في سيارته الفارهة. دس الهدية بين يدي الممدودتين إليه وعاد سريعاً.. إلى ضيوفه.

وأنا أتوحد مع نفسي في فراشي آخر الليل وحتى وافاني النوم. عند الفجر، كنت أتعارك مع أفكاري السوداء التي أخذت تطبق علي من كل جهة.

في الأيام التالية تأكد لي أن حسين كان يتهرب من لقائي بشتى الحجج ولم يعد يصلني به إلا أخباره التي كانت تتوالى محدثة في كل مرة ضجة في بلدتنا الصغيرة.

في اليوم الثالث من عودته.. اشترى قصر ناظم بك على الهضبة الخضراء.

في اليوم الرابع اشترى دفعة واحدة أرض محمود آغا وكراج الخواجة حنا.

في اليوم السادس تزوج من وداد.. وسافر بها في اليوم السابع.

في اليوم الثامن كانت الأمور قد اختلطت علي تماماً وعندما كنت أعود آخر النهار من جولتي التي كانت تبدأ عند شروق الشمس حول الحقول، وعلى مسار النهر كان يصلني الهمس حولي واضحاً.. من أني قد أصبت بالجنون. كنت أنظر حولي بذهول وكنت أريد أن أثبت لهم.. بأني ما زلت عاقلاً كما كنت دوماً إلا أني فشلت إلى هذه الساعة ولم يكن لهم أي ذنب في ظنونهم بي لأني عندما كنت أريد أن أستعيد صورة، رفيقي حسين المفقودة أجدها وقد تلبست في صورة ناظم بك ولأني كنت أردد بأني سوف أقتل ناظم بك والكل يعلم أن ناظم بك قد مات منذ زمن بعيد.

(القامشلي 22/8/1997.)

vvv